GENERASI MILENIAL DALAM PARIWISATA

Pariwisata hingga saat ini masih juga masuk ke dalam 5 prioritas pembangunan Indonesia di tahun 2019, bersama sektor pangan, energi, maritim, dan kawasan industial ekonomi khusus. Pariwisata di Indonesia pada tahun 2018 juga telah mampu mendorong sektor lain, seperti industri kecil di pedesaan, industri kreatif seni budaya, agro wisata, dan kuliner.

Di pemerintahan Presiden Joko Widodo juga telah mengutamakan pembangunan infrastruktur menuju destinasi prioritas. Hal itu tentu saja akan menguntungkan investasi di sektor pariwisata. Meski demikian, pembangunan infrastuktur mestinya tidak hanya dilakukan pada 10 destinasi prioritas yang sudah ditetapkan. Pemerintah perlu menambah destinasi prioritas di beberapa daerah, sehingga iklim investasi juga dirasakan oleh berbagai daerah. Keterbatasan aksesibilitas menuju destinasi seringkali menjadi kendala bagi pengembangan pariwisata di daerah.

Sejak Oktober hingga Desember 2018, pariwisata di Indonesia khususnya di Bali terjadi erupsi Gunung Agung di Karangasem,  Bali. Menteri Pariwisata Bapak Arief Yahya menyatakan erupsi tersebut menimbulkan kerugian besar bagi sektor pariwisata di Indonesia. Ditaksir mencapai 250 milyar rupiah per-hari atau jika ditotalkan mencapai 9 triliun rupiah. Padahal periode tersebut adalah puncak musim bagi pengunjung wisatawan domestik dan mancanegara.

ISI

Berbicara tentang pariwisata tentu tak lepas dari partisipasi terkhusus dalam pengembangan pariwisata di Bali. Partisipasi menjadi titik mula dalam pengembangan wisata berbasis masyarakat. Dengan partisipasi dari semua pihak khususnya masyarakat, gairah wisata akan terbangun. Ketika semua orang turut mendukung, maka para wisatawan akan merasa nyaman berada di sebuah objek wisata.

Terdapat pemikiran yang kurang tepat berkembang, jika mengembangkan objek wisata difokuskan pada bagaimana membangun destinasi. Destinasi memang penting, tapi bukan yang pertama yang perlu dipikirkan. Komunitas atau masyarakat adalah aspek pertama yang harus “ditata” terlebih dahulu. Keterlibatan semua orang untuk menjadikan lingkungannya sebagai lokasi yang nyaman bagi para wisatawan adalah hal pokok yang harus dituntaskan terlebih dahulu.

Selain partisipasi, prinsip yang harus dijaga dalam pengembangan wisata adalah menjaga kebudayaan. Tiga pilar pembangunan berkelanjutan menjadi acuan dalam hal ini. Wisata tidak boleh hanya mengedepankan tujuan ekonomi tapi juga keberlanjutan sosial budaya dan lingkungan. Inti wisata berbasis masyarakat bukan soal bagus atau tidaknya destinasi. Perubahan pola pikir masyarakat adalah hal yang lebih utama. Misalnya dalam sebuah desa wisata yang sedang digalakkan di seluruh wilayah Bali, satu penduduk dengan penduduk lain harus memiliki keramahan yang sama. Ketika disambut dengan keramahan semua penduduk desa, secara otomatis wisatawan akan merasa senang dan akan kembali datang ke desa tersebut. Karenanya partisipasi masyarakat dan keramahan mereka inilah yang akan menjadi faktor keberlanjutan wisata berbasis masyarakat.

Ketika partisipasi dan keramahan sudah terbangun, proses pemasaran menjadi perhatian selanjutnya. Desa-desa wisata di Indonesia khususnya di Bali menemui kesuksesan karena bantuan teknologi dan keberadaan generasi milenial. Generasi ini umumnya memiliki karakter sebagai pengguna media dan teknologi digital. Penggerak wisata berbasis masyarakat harus mengenali karakter dan cara generasi milenial dalam berkomunikasi. Menguasai cara generasi milenial berkomunikasi berarti menguasai proses pemasaran wisata.

Ada 3 (tiga) program prioritas di Tahun 2018 untuk mewujudkan 20 Juta Wisman di Tahun 2019, Digital Tourism (E-Tourism), Homestay Desa Wisata dan Konektivitas Udara (Air Accesibility). Ketiganya menjadi prioritas mengikuti trend industri dunia saat ini dimana sudah tidak lagi owned economy tapi sharing economy,  maka target Presiden Joko Widodo tersebut dapat Pariwisata Indonesia juga harus beradaptasi dan bertransformasi dengan era baru tersebut, maka lahirlah program kebijakan Digital Tourism.

Generasi milenial adalah konsumen wisata yang sangat potensial. Selain jumlah yang besar, karakter mereka secara tidak langsung sangat mendukung proses promosi. Karenanya, pengelola wisata dituntut untuk mengikuti keinginan dan harapan mereka. Jika tidak, tentu mereka akan mengabaikan wisata kita. Secara berurutan, generasi milenial paling banyak menggunakan media sosial youtube, facebook, dan instagram.

PENUTUP

 Wisatawan zaman now memiliki gaya hidup digital (digital lifestyle), dan perangkat digital mereka harus didukung oleh beberapa fasilitas seperti tempat charging baterai, steker listrik (colokan), wifi, dll. Hal tersebut mungkin dipandang sepele, tetapi kenyataannya masih banyak tempat wisata yang masih belum aware. Padahal pada saat ini hal tersebut sudah menjadi hal yang generik, yang sudah seharusnya tersedia atau bukan lagi menjadi augmented product seperti zaman old. Usaha pariwisata/destinasi zaman now harus terus kreatif dan inovatif dengan selalu menampilkan augmented product yang baru, yang unik, agar selalu hits dan tidak membosankan. Kalau menurut Menteri Pariwisata, Arief Yahya usaha tersebut patokannya adalah bagaimana usaha pariwisata/destinasi zaman now agar selalu menciptakan creativity valuedan commercial value, atau dengan kata lain bahwa selain harus menciptakan keunikan juga harus memiliki nilai jual. Sebagai faktor pengungkit, kita dapat mengundang komunitas travel blogger, vlogger, selebgram atau sejenisnya dan bekerjasama dengan Genpi (Gerakan Pesona Indonesia) sebagai media buzz atau word of mouth, karena generasi zaman now sudah relatif menghiraukan promosi konvensional, tetapi mereka sangat mempercai peer recomendation, seperti komentar atau review dalam medsos.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai