

Daftar kekayaan
destinasi pariwisata kuliner Indonesia kembali bertambah. Kali ini, Ubud di
Kabupaten Gilianyar, Bali, dijadikan destinasi gastronomi sesuai standar
organisasi pariwisata dunia UN World Tourism Organization (UNWTO).
Hal ini disambut baik oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya.
Menurutnya, jika ingin bersaing secara global maka harus menggunakan standar
global sehingga wisata kuliner di Indonesia dapat menjadi yang terbaik di dunia,
“Menjadi yang terbaik akan menaikkan level 3C. Ini sama
seperti saat kita meraih penghargaan dunia, yaitu Credibility, Confidence, and
Calibrate. Begitu pun program destinasi gastronomi berstandar UNWTO ini akan
menjadi pencapaian pariwisata Indonesia untuk menjadi yang terbaik di global,”
ujar Arief dalam keterangannya, Senin (12/6/2019).
Arief menjelaskan,
bahwa kuliner Indonesia sangat memungkinkan menjadi pemain global. Apalagi tren
wisatawan saat ini adalah mencari pengalaman otentik yang dapat memberikan
konteks cerita yang berkualitas. Tak hanya itu kuliner juga merupakan alat
diplomasi yang paling baik sehingga memberikan dampat positif bagi Indonesia.
“Dan ingat, kuliner merupakan diplomasi sosial yang
paling halus, cepat, dan efektif untuk mempopulerkan sesuatu ke pasar global.
Sebagai contoh Amerika dengan distribusi film Hollywood dan gaya hidup masakan
cepat saji dan Korea dengan drama K-Pop dan kulinernya. Tak saja mereka mampu
mempopulerkan sosial budayanya, namun juga memberikan dampak branding positif
bagi pariwisatanya,” jelas Arief.


Sektor kuliner dalam industri pariwisata juga menyumbang sekitar
30%-40% pendapatan pariwisata. Ekonomi kreatif berkontribusi sebesar 7,38%
terhadap perekonomian nasional dengan total PDB sekitar Rp852,24 triliun, dari
total kontribusi tersebut subsektor kuliner menyumbang 41,69%.
Sementara itu, Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata
Kuliner dan Belanja Kemenpar Vita Datau mengatakan, program yang dikerjakan
oleh Kemenpar dan UNWTO ini memasuki tahapan penting yakni kunjungan tim yang
ditunjuk oleh UNWTO untuk melakukan pendalaman dan penilaian atas Ubud.
“Proses di lapangan akan berlangsung 8 hari di Ubud,
Gianyar, dan sekitarnya. Sedangkan questionares akan dilakukan online dan
offline selama tiga minggu. Pada tahap ini juga dilakukan perencanaan dan
strategi rekomendasi,” ujar Vita.
Dengan proses ini, Ubud selangkah lagi menjadi destinasi
gastronomi sesuai standar UNWTO. Selanjutnya UNWTO akan mengeluarkan
rekomendasi yang perlu diterapkan dan dilakukan oleh stakeholders serta
dilakukan penilaian kedua yang dijadwalkan awal Agustus 2019 mendatang.
Jika semua proses dilakukan dengan benar, maka Ubud dapat
dinyatakan sebagai destinasi gastronomi prototype UNWTO, yang telah sesuai
dengan gastronomy destination development guideline UNWTO.
“Diharapkan program ini akan selesai secepatnya dan Ubud
menjadi prototype gastronomy holistik pertama di Indonesia dan dunia,”
kata Vita.

Tim UNWTO diwakili oleh Aditya Amaranggana sebagai Project Specialist mengatakan, UNWTO mengapresiasi segala upaya Indonesia. Karena kerja keras semua pihak, pada akhirnya Ubud berhasil terpilih sebagai destinasi prototype untuk Wisata Gastronomi.
“Kami salut dengan kerja sama yang terjalin sejak 2017 hingga mencapai tahap ini. Tiga hal yang penting program ini bahwa satu fokus UNWTO 2019 adalah SDG’s, kedua program ini bisa membantu pencapaian SDG’s 2030 karena gastronomi adalah sebuah ekosistem hulu ke hilir yang menyentuh banyak point di SDG’s,” kata Aditya.
Selain itu kata dia, gastronomi mampu membuka lapangan kerja baru di industri FnB (Food and Beverage) yang memiliki potensi bagus di dunia.
“Melalui program ini diharapkan akan memberikan kesempatan bagi Indonesia melalui Ubud Gianyar untuk menunjukan aset budaya gastronomi yang sangat luar biasa,” katanya.
Roberta Garibaldi, Lead Expert yang ditunjuk UNWTO, menjelaskan sebuah destinasi gastronomi yang holistik memiliki nilai warisan budaya, serta kualitas lokal produk. Dimana industrinya berkembang, amenitas gastronomi cukup mumpuni dan sustain. Seperti restaurants, warung, café, bar yang mengangkat kearifan lokal.
“Selain itu penetapan Ubud sebagai destinasi gastronomi juga dapat mendorong berbagai aspek. Seperti keberadaan pasar tradisional, pemasok wine, kopi, teh, produk organik, layanan edukasi gastronomi formal dan informal yang fokus pada kearifan lokal kuliner serta budaya makan setempat,” paparnya.UBUD BALI SEBAGAI DESTINASI WISATA SIAP BERSAING
Tim UNWTO diwakili oleh Aditya Amaranggana sebagai Project Specialist mengatakan, UNWTO mengapresiasi segala upaya Indonesia. Karena kerja keras semua pihak, pada akhirnya Ubud berhasil terpilih sebagai destinasi prototype untuk Wisata Gastronomi.
“Kami salut dengan kerja sama yang terjalin sejak 2017 hingga mencapai tahap ini. Tiga hal yang penting program ini bahwa satu fokus UNWTO 2019 adalah SDG’s, kedua program ini bisa membantu pencapaian SDG’s 2030 karena gastronomi adalah sebuah ekosistem hulu ke hilir yang menyentuh banyak point di SDG’s,” kata Aditya.
Selain itu kata dia, gastronomi mampu membuka lapangan kerja baru di industri FnB (Food and Beverage) yang memiliki potensi bagus di dunia.
“Melalui program ini diharapkan akan memberikan kesempatan bagi Indonesia melalui Ubud Gianyar untuk menunjukan aset budaya gastronomi yang sangat luar biasa,” katanya.
Roberta Garibaldi, Lead Expert yang ditunjuk UNWTO, menjelaskan sebuah destinasi gastronomi yang holistik memiliki nilai warisan budaya, serta kualitas lokal produk. Dimana industrinya berkembang, amenitas gastronomi cukup mumpuni dan sustain. Seperti restaurants, warung, café, bar yang mengangkat kearifan lokal.
“Selain itu penetapan Ubud sebagai destinasi gastronomi juga dapat mendorong berbagai aspek. Seperti keberadaan pasar tradisional, pemasok wine, kopi, teh, produk organik, layanan edukasi gastronomi formal dan informal yang fokus pada kearifan lokal kuliner serta budaya makan setempat,” paparnya.