UBUD BALI SEBAGAI DESTINASI WISATA SIAP BERSAING

Daftar kekayaan destinasi pariwisata kuliner Indonesia kembali bertambah. Kali ini, Ubud di Kabupaten Gilianyar, Bali, dijadikan destinasi gastronomi sesuai standar organisasi pariwisata dunia UN World Tourism Organization (UNWTO). 

Hal ini disambut baik oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya. Menurutnya, jika ingin bersaing secara global maka harus menggunakan standar global sehingga wisata kuliner di Indonesia dapat menjadi yang terbaik di dunia,

“Menjadi yang terbaik akan menaikkan level 3C. Ini sama seperti saat kita meraih penghargaan dunia, yaitu Credibility, Confidence, and Calibrate. Begitu pun program destinasi gastronomi berstandar UNWTO ini akan menjadi pencapaian pariwisata Indonesia untuk menjadi yang terbaik di global,” ujar Arief dalam keterangannya, Senin (12/6/2019).

Arief menjelaskan, bahwa kuliner Indonesia sangat memungkinkan menjadi pemain global. Apalagi tren wisatawan saat ini adalah mencari pengalaman otentik yang dapat memberikan konteks cerita yang berkualitas. Tak hanya itu kuliner juga merupakan alat diplomasi yang paling baik sehingga memberikan dampat positif bagi Indonesia.

“Dan ingat, kuliner merupakan diplomasi sosial yang paling halus, cepat, dan efektif untuk mempopulerkan sesuatu ke pasar global. Sebagai contoh Amerika dengan distribusi film Hollywood dan gaya hidup masakan cepat saji dan Korea dengan drama K-Pop dan kulinernya. Tak saja mereka mampu mempopulerkan sosial budayanya, namun juga memberikan dampak branding positif bagi pariwisatanya,” jelas Arief. 


Sektor kuliner dalam industri pariwisata juga menyumbang sekitar 30%-40% pendapatan pariwisata. Ekonomi kreatif berkontribusi sebesar 7,38% terhadap perekonomian nasional dengan total PDB sekitar Rp852,24 triliun, dari total kontribusi tersebut subsektor kuliner menyumbang 41,69%.

Sementara itu, Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja Kemenpar Vita Datau mengatakan, program yang dikerjakan oleh Kemenpar dan UNWTO ini memasuki tahapan penting yakni kunjungan tim yang ditunjuk oleh UNWTO untuk melakukan pendalaman dan penilaian atas Ubud. 

“Proses di lapangan akan berlangsung 8 hari di Ubud, Gianyar, dan sekitarnya. Sedangkan questionares akan dilakukan online dan offline selama tiga minggu. Pada tahap ini juga dilakukan perencanaan dan strategi rekomendasi,” ujar Vita.

Dengan proses ini, Ubud selangkah lagi menjadi destinasi gastronomi sesuai standar UNWTO. Selanjutnya UNWTO akan mengeluarkan rekomendasi yang perlu diterapkan dan dilakukan oleh stakeholders serta dilakukan penilaian kedua yang dijadwalkan awal Agustus 2019 mendatang. 

Jika semua proses dilakukan dengan benar, maka Ubud dapat dinyatakan sebagai destinasi gastronomi prototype UNWTO, yang telah sesuai dengan gastronomy destination development guideline UNWTO.

“Diharapkan program ini akan selesai secepatnya dan Ubud menjadi prototype gastronomy holistik pertama di Indonesia dan dunia,” kata Vita.


Tim UNWTO diwakili oleh Aditya Amaranggana sebagai Project Specialist mengatakan, UNWTO mengapresiasi segala upaya Indonesia. Karena kerja keras semua pihak, pada akhirnya Ubud berhasil terpilih sebagai destinasi prototype untuk Wisata Gastronomi.

“Kami salut dengan kerja sama yang terjalin sejak 2017 hingga mencapai tahap ini. Tiga hal yang penting program ini bahwa satu fokus UNWTO 2019 adalah SDG’s, kedua program ini bisa membantu pencapaian SDG’s 2030 karena gastronomi adalah sebuah ekosistem hulu ke hilir yang menyentuh banyak point di SDG’s,” kata Aditya.

Selain itu kata dia, gastronomi mampu membuka lapangan kerja baru di industri FnB (Food and Beverage) yang memiliki potensi bagus di dunia.

“Melalui program ini diharapkan akan memberikan kesempatan bagi Indonesia melalui Ubud Gianyar untuk menunjukan aset budaya gastronomi yang sangat luar biasa,” katanya.

Roberta Garibaldi, Lead Expert yang ditunjuk UNWTO, menjelaskan sebuah destinasi gastronomi yang holistik memiliki nilai warisan budaya, serta kualitas lokal produk. Dimana industrinya berkembang, amenitas gastronomi cukup mumpuni dan sustain. Seperti restaurants, warung, café, bar yang mengangkat kearifan lokal. 

“Selain itu penetapan Ubud sebagai destinasi gastronomi juga dapat mendorong berbagai aspek. Seperti keberadaan pasar tradisional, pemasok wine, kopi, teh, produk organik, layanan edukasi gastronomi formal dan informal yang fokus pada kearifan lokal kuliner serta budaya makan setempat,” paparnya.UBUD BALI SEBAGAI DESTINASI WISATA SIAP BERSAING
Tim UNWTO diwakili oleh Aditya Amaranggana sebagai Project Specialist mengatakan, UNWTO mengapresiasi segala upaya Indonesia. Karena kerja keras semua pihak, pada akhirnya Ubud berhasil terpilih sebagai destinasi prototype untuk Wisata Gastronomi.

“Kami salut dengan kerja sama yang terjalin sejak 2017 hingga mencapai tahap ini. Tiga hal yang penting program ini bahwa satu fokus UNWTO 2019 adalah SDG’s, kedua program ini bisa membantu pencapaian SDG’s 2030 karena gastronomi adalah sebuah ekosistem hulu ke hilir yang menyentuh banyak point di SDG’s,” kata Aditya.

Selain itu kata dia, gastronomi mampu membuka lapangan kerja baru di industri FnB (Food and Beverage) yang memiliki potensi bagus di dunia.

“Melalui program ini diharapkan akan memberikan kesempatan bagi Indonesia melalui Ubud Gianyar untuk menunjukan aset budaya gastronomi yang sangat luar biasa,” katanya.

Roberta Garibaldi, Lead Expert yang ditunjuk UNWTO, menjelaskan sebuah destinasi gastronomi yang holistik memiliki nilai warisan budaya, serta kualitas lokal produk. Dimana industrinya berkembang, amenitas gastronomi cukup mumpuni dan sustain. Seperti restaurants, warung, café, bar yang mengangkat kearifan lokal. 

“Selain itu penetapan Ubud sebagai destinasi gastronomi juga dapat mendorong berbagai aspek. Seperti keberadaan pasar tradisional, pemasok wine, kopi, teh, produk organik, layanan edukasi gastronomi formal dan informal yang fokus pada kearifan lokal kuliner serta budaya makan setempat,” paparnya.

WIRAUSAHA COFFEE SHOP

Kopi merupakan salah satu minuman populer di Indonesia sejak dulu. Mulai dari kelas bawah hingga kelas atas, mereka semua menyukai kopi. Karena kepopulerannya, kini banyak pengusaha Indonesia memulai bisnis kopi, dari kedai kopi tradisional hingga kafe-kafe modern. Bisnis kedai kopi atau coffee shop adalah peluang besar dan menjanjikan. Namun, itu semua tergantung bagaimana cara Anda mengelola dan mengembangkannya. Lalu bagaimana cara memulai bisnis coffee shop atau kedai kopi? Ikuti tipsnya di bawah ini.

Modal Bisnis

Modal adalah salah satu hal penting yang harus dipikirkan sebelum memulai bisnis. Untuk memulai bisnis kedai kopi, modal Rp1 juta pun cukup. Seperti yang dikatakan Irfan Rahadian Sudiyana, owner Kiwari Coffee. Ia mengatakan bahwa, “modal itu kan tergantung. Kalau bisnis kopi itu sebenarnya modalnya cuma 2, kopi dan air (panas) saja. Kalau mau pakai alat racik manual yang sederhana, asal sudah ada tempatnya modal Rp 1 juta pun cukup untuk beli alatnya dan bahan baku“. Mulailah dengan kedai kopi sederhana dan jangan pernah paksakan untuk membuat kedai kopi yang mewah. Bagaimanapun Anda harus melihat bagaimana kemampuan Anda.

Target Konsumen

Sebelum memulai, Anda juga harus memikirkan dan menentukan siapa target yang cocok untuk bisnis kedai kopi Anda. Setelah menentukan target konsumen, Anda juga harus mulai menganalisanya, berapa penghasilannya, apa pendapat mereka tentang cita rasa kopi, dan apa pekerjaan mereka? Memahami konsumen dengan baik, berarti Anda dapat menentukan strategi yang tepat seperti lokasi bisnis, desain coffee shop yang cocok, harga yang pas, dan lain sebagainya.

Mencari Supplier

Mencari supplier juga harus disesuaikan dengan target konsumen yang telah Anda tentukan. Misalnya, Anda menentukan bahwa target konsumen Anda adalah kelas menengah ke bawah, berarti Anda dapat mencari supplier dengan mudah di pasaran. Tapi, jika target konsumen Anda adalah kelas menengah ke atas yang lebih mementingkan cita rasa daripada harga, Anda harus mencari supplier kopi dengan kualitas yang baik, dan tidak cukup dengan kopi bubuk instan yang dijual dipasaran. Jadi, cobalah cari supplier kopi yang bisa memberikan kualitas baik dengan harga yang cocok.

Konsep Bisnis

Untuk menghindari persaingan bisnis kopi, Anda harus membuat konsep yang kuat. Selain untuk membedakan bisnis Anda dengan bisnis kopi lainnya, konsep bisnis juga dapat membantu menarik konsumen hingga membantu mengembangkan bisnis. Konsep yang Anda gunakan dalam membuka kedai kopi akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan bisnis. Misalnya, Anda mengusung konsep minimalis, maka menu kopi yang dibuat juga harus berkonsep minimalis. Apapun konsep yang digunakan, Anda tetap harus mengedepankan kenyamanan. Apalagi, kebanyakan orang menikmati kopi saat bersantai.

Lokasi Bisnis

Apapun bisnis yang dijalankan, lokasi strategis adalah salah satu hal yang dapat menentukam apakah bisnis Anda akan berkembang. Misalnya, Anda menggunakan konsep kedai kopi sederhana, berarti Anda harus memilih lokasi yang berdekatan dengan banyak orang. Namun, jika Anda menggunakan konsep kafe, Anda dapat mencari lokasi yang berdekatan dengan kampus, mall, sekolah, kantor, dan lain sebagainya.

Promosi Bisnis

Untuk memperkenalkan produk ke masyarakat luas, Anda harus melakukan promosi bisnis. Di mana promosi bisnis dapat Anda lakukan dengan berbagai cara, mulai dari menggunakan strategi word of mouth, me-review kedai kopi Anda melalui social media, atau memberikan diskon harga kepada konsumen Anda di hari-hari spesial seperti ulang tahun, hari natal, dan lain sebagainya. Selain promosi bisnis, Anda juga harus terus berinovasi untuk terus mempertahankan eksistensi kedai kopi dan mengembangkan bisnis. Itulah beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk memulai bisnis kedai kopi. Setelah bisnis Anda berhasil dijalankan dengan baik, Anda juga harus mulai memikirkan untuk membuat laporan keuangan. Dengan laporan keuangan, Anda dapat lebih mudah melihat kondisi keuangan hingga membuat keputusan ketika ingin mengembangkan bisnis. Untuk membuat laporan keuangan dengan mudah dan instan, Anda dapat menggunakan aplikasi akuntansi Jurnal. Dengan mendaftarkan perusahaan ke Jurnal, Anda juga dapat memonitor keuangan bisnis Anda di mana pun dan kapan pun.

Revolusi Industri dan Pariwisata 4.0

Tak kurang dari 10.000 wisatawan asing dan 100.000 wisatawan domestik menyaksikan gerhana matahari total di penjuru Nusantara. Dua daerah terpopuler adalah Bangka Belitung dan Halmahera sebagai lokasi paling ideal menyaksikan peristiwa alam langka tersebut.

Fenomena pariwisata gerhana mengajarkan, peristiwa alam bisa menjadi komoditas wisata. Selain mendatangkan devisa, juga mendongkrak kegiatan ekonomi daerah. Inilah saatnya industri pariwisata dikembangkan dengan pendekatan mutakhir.

Sejak pemerintahan lalu, ekonomi kreatif menjadi perhatian penting. Pada periode pemerintahan sekarang dibentuk Badan Ekonomi Kreatif yang mandiri dari Kementerian Pariwisata. Sejatinya keduanya sangat erat hubungannya. Dengan ruang lingkup yang lebih luas, koordinasi antarinstitusi menjadi sangat krusial, yaitu menggabungkan aspek fisik dan dimensi kreativitas.

Kita hidup pada zaman revolusi industri keempat.  Begitu kata Klaus Schwab, pendiri Forum Ekonomi Dunia, pada pertemuan tahunan di Davos, Swiss, Januari 2016. Revolusi industri pertama ditandai penemuan uap air yang menggantikan tenaga manusia dalam menggerakkan mesin. Revolusi kedua terjadi pada akhir abad ke-19, dipicu penemuan listrik yang memunculkan berbagai kemajuan, mulai teknologi pesawat terbang, mobil, hingga televisi. Revolusi ketiga dimulai pada 1960-an saat perkembangan teknologi digital, dari komputer hingga internet.

Sejak itu, revolusi industri keempat terjadi sebagai akumulasi kemajuan di bidang fisik, digital, dan biologi yang memunculkan berbagai kemajuan mengagumkan di berbagai bidang. Kemajuan itu, antara lain, mobil tanpa pengemudi, robot pandai, hingga pencetak 3 dimensi. Semua ini mengubah cara manusia bekerja, berelasi, hingga menjalani kehidupan sehari-hari.

Salah satu sektor paling terpengaruh revolusi industri keempat ini adalah pariwisata. Kita bisa menyaksikan, iklan destinasi wisata begitu menggiurkan sehingga minat wisatawan meningkat. Malaysia, misalnya, kita kenal sebagai negara dengan promosi pariwisata yang gencar, yang berdampak pada kedatangan turis yang membanjir. Apakah situs wisata kita lebih buruk daripada Malaysia? Dengan penuh percaya diri, sumber wisata alam dan budaya kita jauh lebih kaya. Lalu, mengapa jumlah wisatawan asing yang ke Malaysia jauh lebih banyak?

Menurut perhitungan Asosiasi Perjalanan Asia Pasifik (PATA), kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada 2015 berjumlah 9,1 juta, sedangkan Malaysia 27,7 juta orang dan Thailand 36 juta orang. Pada 2018, Indonesia diperkirakan akan kedatangan 10,7 juta wisatawan asing, sedangkan Malaysia 30,7 juta orang dan Thailand 79,6 juta.

Dalam Laporan Daya Saing Perjalanan dan Wisata 2015 keluaran Forum Ekonomi Dunia, posisi daya saing pariwisata kita memang jauh tertinggal. Jika Thailand berada pada peringkat ke-35 dan Malaysia ke-25, kita masih berada pada posisi ke-50. Padahal, dalam komponen kebijakan yang mendukung pariwisata, Indonesia ada di posisi ke-9, jauh lebih baik dibandingkan dengan Thailand di posisi ke-49 dan Malaysia pada posisi ke-24.

Sayangnya, infrastruktur pendukung pariwisata kita ketinggalan. Indonesia di posisi ke-75, Thailand ke-37, dan Malaysia ke-41. Adapun dalam lingkungan pendukung pariwisata, posisi kita juga tertinggal, pada peringkat ke-80, sedangkan Thailand ke-75 dan Malaysia ke-40.

Dalam hal kekayaan alam, posisi Indonesia di peringkat ke-19, Thailand ke-16, dan Malaysia ke-26. Dalam hal kekayaan kebudayaan, Indonesia di peringkat ke-25, sementara Thailand ke-34 dan Malaysia ke-27.

Dibandingkan dengan Malaysia, kekayaan alam dan budaya kita masih lebih baik. Begitu pula dengan regulasi terkait pariwisata. Apalagi, kebijakan pemerintahan Joko Widodo progresif menarik wisatawan asing, lewat kebijakan pembebasan visa. Sebagai tindak lanjut penerbitan Peraturan Presiden Nomor 104 Tahun 2015 tentang Fasilitas Bebas Visa Kunjungan, pada 2016 ada tambahan 84 negara baru bebas visa. Dengan demikian, ada 174 negara yang memiliki fasilitas bebas visa ke Indonesia.

Meski begitu, wisatawan asing tidak serta-merta membanjir mengalahkan Malaysia, apalagi Thailand. Infrastruktur dan lingkungan pendukung yang masih sangat buruk perlu ditingkatkan kapasitasnya. Indonesia yang kaya sumber daya alam dan budaya tak akan terbantu tanpa perbaikan lingkungan fisik.

Dalam hal ini, kebijakan Kawasan Ekonomi Khusus menjadi menarik, melakukan akselerasi pembangunan fisik terfokus pada daerah tertentu. Dengan demikian, kondisi fisik dan lingkungan pendukung terkait pariwisata bisa diperbaiki secara progresif tanpa menunggu pembangunan kawasan lain.

Selain itu, kemajuan digital dan kreativitas yang dimiliki generasi muda kita juga bisa mendukung perkembangan pariwisata. Kawasan Bangka Belitung menarik karena ada narasi mengenai film Laskar Pelangi. Ada banyak potensi pengembangan di kawasan lain yang memerlukan strategi dan pendekatan sistematis dan kreatif.

Konkretnya, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bisa mengumpulkan kementerian terkait agar upaya peningkatan sektor pariwisata di daerah bisa lebih terarah, baik dari sisi fisik, dukungan digital, maupun kreativitas manusianya. Kita memiliki potensi sangat besar di bidang pariwisata. Saatnya membangkitkan wisata dengan pendekatan revolusi industri keempat.

GENERASI MILENIAL DALAM PARIWISATA

Pariwisata hingga saat ini masih juga masuk ke dalam 5 prioritas pembangunan Indonesia di tahun 2019, bersama sektor pangan, energi, maritim, dan kawasan industial ekonomi khusus. Pariwisata di Indonesia pada tahun 2018 juga telah mampu mendorong sektor lain, seperti industri kecil di pedesaan, industri kreatif seni budaya, agro wisata, dan kuliner.

Di pemerintahan Presiden Joko Widodo juga telah mengutamakan pembangunan infrastruktur menuju destinasi prioritas. Hal itu tentu saja akan menguntungkan investasi di sektor pariwisata. Meski demikian, pembangunan infrastuktur mestinya tidak hanya dilakukan pada 10 destinasi prioritas yang sudah ditetapkan. Pemerintah perlu menambah destinasi prioritas di beberapa daerah, sehingga iklim investasi juga dirasakan oleh berbagai daerah. Keterbatasan aksesibilitas menuju destinasi seringkali menjadi kendala bagi pengembangan pariwisata di daerah.

Sejak Oktober hingga Desember 2018, pariwisata di Indonesia khususnya di Bali terjadi erupsi Gunung Agung di Karangasem,  Bali. Menteri Pariwisata Bapak Arief Yahya menyatakan erupsi tersebut menimbulkan kerugian besar bagi sektor pariwisata di Indonesia. Ditaksir mencapai 250 milyar rupiah per-hari atau jika ditotalkan mencapai 9 triliun rupiah. Padahal periode tersebut adalah puncak musim bagi pengunjung wisatawan domestik dan mancanegara.

ISI

Berbicara tentang pariwisata tentu tak lepas dari partisipasi terkhusus dalam pengembangan pariwisata di Bali. Partisipasi menjadi titik mula dalam pengembangan wisata berbasis masyarakat. Dengan partisipasi dari semua pihak khususnya masyarakat, gairah wisata akan terbangun. Ketika semua orang turut mendukung, maka para wisatawan akan merasa nyaman berada di sebuah objek wisata.

Terdapat pemikiran yang kurang tepat berkembang, jika mengembangkan objek wisata difokuskan pada bagaimana membangun destinasi. Destinasi memang penting, tapi bukan yang pertama yang perlu dipikirkan. Komunitas atau masyarakat adalah aspek pertama yang harus “ditata” terlebih dahulu. Keterlibatan semua orang untuk menjadikan lingkungannya sebagai lokasi yang nyaman bagi para wisatawan adalah hal pokok yang harus dituntaskan terlebih dahulu.

Selain partisipasi, prinsip yang harus dijaga dalam pengembangan wisata adalah menjaga kebudayaan. Tiga pilar pembangunan berkelanjutan menjadi acuan dalam hal ini. Wisata tidak boleh hanya mengedepankan tujuan ekonomi tapi juga keberlanjutan sosial budaya dan lingkungan. Inti wisata berbasis masyarakat bukan soal bagus atau tidaknya destinasi. Perubahan pola pikir masyarakat adalah hal yang lebih utama. Misalnya dalam sebuah desa wisata yang sedang digalakkan di seluruh wilayah Bali, satu penduduk dengan penduduk lain harus memiliki keramahan yang sama. Ketika disambut dengan keramahan semua penduduk desa, secara otomatis wisatawan akan merasa senang dan akan kembali datang ke desa tersebut. Karenanya partisipasi masyarakat dan keramahan mereka inilah yang akan menjadi faktor keberlanjutan wisata berbasis masyarakat.

Ketika partisipasi dan keramahan sudah terbangun, proses pemasaran menjadi perhatian selanjutnya. Desa-desa wisata di Indonesia khususnya di Bali menemui kesuksesan karena bantuan teknologi dan keberadaan generasi milenial. Generasi ini umumnya memiliki karakter sebagai pengguna media dan teknologi digital. Penggerak wisata berbasis masyarakat harus mengenali karakter dan cara generasi milenial dalam berkomunikasi. Menguasai cara generasi milenial berkomunikasi berarti menguasai proses pemasaran wisata.

Ada 3 (tiga) program prioritas di Tahun 2018 untuk mewujudkan 20 Juta Wisman di Tahun 2019, Digital Tourism (E-Tourism), Homestay Desa Wisata dan Konektivitas Udara (Air Accesibility). Ketiganya menjadi prioritas mengikuti trend industri dunia saat ini dimana sudah tidak lagi owned economy tapi sharing economy,  maka target Presiden Joko Widodo tersebut dapat Pariwisata Indonesia juga harus beradaptasi dan bertransformasi dengan era baru tersebut, maka lahirlah program kebijakan Digital Tourism.

Generasi milenial adalah konsumen wisata yang sangat potensial. Selain jumlah yang besar, karakter mereka secara tidak langsung sangat mendukung proses promosi. Karenanya, pengelola wisata dituntut untuk mengikuti keinginan dan harapan mereka. Jika tidak, tentu mereka akan mengabaikan wisata kita. Secara berurutan, generasi milenial paling banyak menggunakan media sosial youtube, facebook, dan instagram.

PENUTUP

 Wisatawan zaman now memiliki gaya hidup digital (digital lifestyle), dan perangkat digital mereka harus didukung oleh beberapa fasilitas seperti tempat charging baterai, steker listrik (colokan), wifi, dll. Hal tersebut mungkin dipandang sepele, tetapi kenyataannya masih banyak tempat wisata yang masih belum aware. Padahal pada saat ini hal tersebut sudah menjadi hal yang generik, yang sudah seharusnya tersedia atau bukan lagi menjadi augmented product seperti zaman old. Usaha pariwisata/destinasi zaman now harus terus kreatif dan inovatif dengan selalu menampilkan augmented product yang baru, yang unik, agar selalu hits dan tidak membosankan. Kalau menurut Menteri Pariwisata, Arief Yahya usaha tersebut patokannya adalah bagaimana usaha pariwisata/destinasi zaman now agar selalu menciptakan creativity valuedan commercial value, atau dengan kata lain bahwa selain harus menciptakan keunikan juga harus memiliki nilai jual. Sebagai faktor pengungkit, kita dapat mengundang komunitas travel blogger, vlogger, selebgram atau sejenisnya dan bekerjasama dengan Genpi (Gerakan Pesona Indonesia) sebagai media buzz atau word of mouth, karena generasi zaman now sudah relatif menghiraukan promosi konvensional, tetapi mereka sangat mempercai peer recomendation, seperti komentar atau review dalam medsos.

Introduce Yourself (Example Post)

This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.

You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.

Why do this?

  • Because it gives new readers context. What are you about? Why should they read your blog?
  • Because it will help you focus you own ideas about your blog and what you’d like to do with it.

The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.

To help you get started, here are a few questions:

  • Why are you blogging publicly, rather than keeping a personal journal?
  • What topics do you think you’ll write about?
  • Who would you love to connect with via your blog?
  • If you blog successfully throughout the next year, what would you hope to have accomplished?

You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.

Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.

When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai